Podcast Perdana Forum Negarawan Bersama Komjen Pol. Drs. Dharma Pongrekun MM., MH

Jacob Ereste

Satu program yang sudah lama diangankan oleh GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) untuk meluncurkan media berbasis internet yang lebih lengkap dan komfrehensif sejak dua tahun silam kini mulai terwujud meski masih sebatas Podcast yang bernama Forum Negarawan dengan membuat acara dialog langsung melalui bersama sejumlah tokoh yang menyambangi Sekretariat Forum Negarawan di Jl. Juanda No. 4 A Lantai II, Jakarta Pusat

Sajian Podcast Forum Negarawan berupa tayangan dialog untuk beragam topik dalam bentuk rekaman yang kemudian dapat diikuti melalui YouTube yang tersebar secara lebih meluas untuk para pemirsa. Meski pada mulanya diidealkan tak hanya sebatas dokumentasi semata — karena idealnya bisa menjadi sarana informasi yang lebih bersifat pemberitaan — karena yang ideal memang langsung on air — tak hanya bernilai informasi belaka.

Kehadiran sejumlah tokoh yang akan direkam oleh Podcast Forum Negarawan meliputi berbagai sektor atau bidang pekerjaan, disiplin ilmu, latar belakang serta profesi mereka yang menyambangi Sekretarian Forum Negarawan bersama GMRI yang secara resmi dimulai pada 18 Juli 2023.

Momentum yang baik ini menjadi sangat kebetulan menandai hari kelahiran sang Penggagas, Wali Spiritual Indonesia dan tokoh penggerak sekaligus pelopor Posko Negarawan yang kemudian berkembang lahirnya Forum Negarawan. Kecuali itu, Podcast Forum Negarawan menandai pula Tahun Baru Hijriyah, 1445 ini menerima kunjungan Komjen Pol. Drs. Dharma Pongrekun MM., MH, ahli IT Mabes Polri dan pernah menjabat Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (17 Juli 2019 – 7 Oktober 2021).

Podcast perdana Forum Negarawan telah diawali pada 18 Juli 2023 bersama Dharma Pongrekun dengan topik utama Menelisik Jebakan Konspirasi Global Dalam Konteks UU Kesehatan di Indonesia yang langsung diterima oleh Tuan Rumah, Sri Eko Sriyanto Galgendu.

Keresahan dan kegelisahan Komjen Pol. Drs. Dharma Pongrekun MM., MH., relevan dengan paparannya melalui buku yang telah dia tulis, yaitu “Indonesia Rekayasa Kehidupan” diterbitkan Grasindo 2021. Yang menarik, inti dari keresahan dan kegelisahannya dalam buku itu merupakan hasil perenungan spiritual dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Mahakuasa dan penentu jalan takdir.

Demikian ungkapnya dalam prakata buku yang mengurai cita-cita dan tujuan awal berbangsa dan bernegara di Indonesia ini.

Dalam bab berikutnya dia mengurai soal Globalisasi dan Pengaruhnya di Indonesia yang erat terkait dengan bab berikutnya tentang proses rekayasa kehidupan.

Atas dasar itu semua, maka tawaran dari paparannya adalah bahwa Indonesia harus melakukan semacam lompatan dengan langkah pertama kembali kepada Trisaksi dengan rincian mulai pembentukan industri Teknologi Nasional.

Menurut Dharma Pongrekun, berbagai pengaruh buruk dari rekayasa kehidupan telah melahirkan dampak negatif pada kehidupan, baik sebagai individu maupun dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara. “Sistem globalisasi telah membuat kita (manusia) semakin menjauh dari cita-cita dan tujuan yang telah dicanangkan para pendiri NKRI sejak Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945”, tandasnya menyimpulkan dalam kata akhir bukunya itu.

Karenanya, dia mengajak segenap komponen bangsa untuk kembali kepada Pancasila sebagai nilai-nilai luhur bangsa yang harus diimplementasikan dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab Pancasila, bisa menjadi obat penawar dari penyakit yang diakibatkan oleh globalisasi yang telah melantak Indonesia. Kecuali itu, Pancasila dapat membangun keintiman (transendental) dengan Tuhan, dan menguatkan empati sesama manusia.

“Semua nilai-nilai Pancasila yang telah digerus oleh proses rekayasa kehidupan harus kita hidupkan kembali demi melahirkan fitrah manusia yang hilang akibat kehidupan yang materialistik dan telah mendominasi kehidupan kita”. Sementara UU Kesehatan yang segera akan diberlakukan di Indonesia, menurut Dharma Pongrekun — sama halnya dengan UU Omnibus Law — merupakan kejahatan terhadap manusia.

UU Omnibus Law Kesehatan itu akan membunuh hak hidup manusia. Sebab kesehatan itu berhubungan langsung dengan tubuh manusia. Dan nomenklaturnya itu jadi seperti vakum kuliner atau UU yang paling jahat dari UU yang pernah ada.

Sedangkan menurut Sri Eko Sriyanto Galgendu, semua kebijakan terhadap bangsa dan negara yang dilakukan pemerintah, semestinya terkoneksi dengan kebesaran dan keagungan Tuhan. Dalam istilah gerakan kesadaran dan pemahaman spiritual yang telah lazim diketahui oleh orang banyak adalah etik profetik yang dibawa para Nabi dari langit.

Jakarta, 18 Juli 2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *