Meraih 2 Mendali Emas Dea Atlet  Menembak Kabupaten Beltim Tidak Sia-Siakan Pengorbanan Waktu dan Materi

,

Muntok, Babar–Bharindojakartaindonesia.com/- Penyumbang dua mendali emas untuk Kabupaten Belitung Timur, pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI di Bangka Barat. Isye Nur Amalina (36) atlet menembak yang prestasi dan pengorbanannya tidak diragukan bagi Kabupaten Belitung Timur.

Dua mendali yang diperoleh antara lain, Satu dari kelas Metal Silhoute Tiga Posisi 33 Meter Putri, satu lagi dari kelas Metal Silhoute Tiga Posisi 33 Meter Beregu Putri. Prestasi dan pengorbanannya patut diacungi jempol, bukan hanya sekedar berkorban waktu, pikiran dan tenaga, namun juga rela merogoh tabungan pribadi hingga ratusan juta rupiah agar dapat memberikan hasil terbaik.

Menurut atlet menembak ini, baru dua tahun belakangan ini berkecimpung dalam olahraga menembak. Awal mulanya, Dia hanya sekedar iseng untuk menyalurkan hobinya. Dan Setelah masuk dan menekuni hobinya, Warga Desa Lalang Kecamatan Manggar ini pun mulai serius untuk berlatih. Awalnya hanya setiap Selasa dan Jum’at Sore.

“Baru dua tahunan, ini Porprov pertama yang diikuti. Pertama dulu diajak teman sekantor untuk ikut menembak dan pas mau Porprov terutama dua bulan jelang ke berangkatan kita berlatih seharian, full dari jam 8 Pagi hingga jam 9 Malam. Pagi sampai sore latihan tim di lapangan tembak, malamnya latihan sendirian di rumah,” ungkap Dea di Lapangan Tembak Stadion Sejiran Setason, Muntok Bangka Barat, Sabtu (26/8/23).

Jadwal latihannya ini sangat menyita tenaga, pikiran dan waktu Dea. Beruntung teman-teman dan atasannya di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Beltim memaklumi dan memberikan izin.  

“Alhamdulillah saya juga selalu meminta izin dengan Kepala UPT SPAM dan Kepala Dinas. Mereka selalu memberikan dukungan,” ujar Dea.

Sebagai salah satu olahraga yang dicap ‘mahal’, diakui Dea peralatan untuk menembak cukup dalam merogoh kocek atlet. Bahkan Dea harus menghabiskan tabungannya untuk membeli senapan hingga seragam khususnya.

“Kemarin beli senapan khusus untuk kelas 10 meter air rifle, itu senapan bekas buatan Jerman. Baju warepacknya untuk kelas yang sama karena harus khusus, ditambah satu senapan lagi, habis banyaklah,” ungkap Dea.

Dea menjelaskan bahwa, atlet menembak tidak bisa hanya mengandalkan senapan dan pistol aset milik Perbakin. Mengingat, dalam olahraga menembak setiap atlet berbeda-beda dalam pengaturan senjata dan kenyaman untuk konsentrasi.

“Lebih nyaman kalau senjatanya pakaian sendiri. Pakai aset Perbakin sebenarnya bisa, cuman enakan punya sendiri. Karena kita harus dapat feel, atau menyatu dengan senjata kita. Settingan dan bapornya juga beda-beda tiap orang,” jelas Dea.

Meski hanya memperoleh dua medali emas dan bonus medali yang nantinya akan diperoleh tidak akan cukup untuk mengganti pengeluarannya, namun Dea mengaku Ikhlas. Seluruh pengorbanannya dilakukan semata-mata untuk tim dan mengharumkan nama Kabupaten Beltim.

“Turun di 6 kelas, dak ada ekspektasi khusus untuk perolehan medali. Lebih kepada melakukan yang terbaik untuk pribadi, tim dan daerah. Biaya yang aku keluarkan Insyallah nanti bakal dapat dari rezeki lain,” harap Dea.

(TIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *