LP3 Nusantara Memberikan Pelatihan Kewirausahaan Industri Produk Pertanian Kepada Para Dosen

foto : Direktur LP3 Nusantara Farman Azhari, SE, MM ( tengah baju merah )

Oleh : Farman Azhari, SE,MM

JAKARTA-bharindojakartaindonesia.com/-
Lembaga ndidikan dan Pelatihan Profesi Nusantara Memberikan Pelatihan Kewirausahaan Industri Produk Pertanian Kepada Para Dosen
Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Profesi Nusantara (LP3 Nusantara) memberikan pelatihan kepada para dosen kewirausahaan 20 Universitas yang ada di Indonesia yang ditunjuk oleh Dirjen SDM Kemendikbudristekdikti. Kegiatan pelatihan dilaksanakan di Hotel Sentral Cawang Jakarta selama 2 hari yakni hari Sabtu, 23 September dan hari Minggu 24 September 2023.
Direktur LP3 Nusantara Farman Azhari, SE, MM mengatakan pelatihan dilaksanakan secara tatap  muka berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi yang ditandatangani Direktur Sumber Daya Muhammad Sofwan Effendi Nomor : 299/E4/DT.04.03/2023 tertanggal 12 Juli 2023.
Dalam sambutannya Direktur LP3 Nusantara menyatakan bahwa peserta pelatihan adalah orang-orang hebat, karena bersedia mengorvbankan waktunya yang berharga untuk sebuah keputusan yang hebat, mengikuti pelatihan kewirausahaan industri produk pertanian.
Pelatihan kewirausahaan industri ini diikuti oleh para dosen berbagai wilayah di Indonesia, sehingga diharapkan terjadi kolaborasi untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan pengetahuan lainnya untuk peningkatan produk pertanian di Indonesia.
Peserta bernama Dewi Kurniati dari Univ. Tanjungpura, Azizah dari Univ. Muslim maros, dan Hasbiadi dari Universitas Sembilanbelas Nopember Kolaka yang berjuluk Negeri Anggrek menyambut baik dan dengan penuh harapan ”agar dari pelatihan kewirausahaan ini lahir sebuah gerakan bersama dimasing-masing daerah untuk melakukan pendampingan kepada para petani dengan sistem yang lebih baik didukung demngan ilmu pengetahuan yang memadai agar para bertani menjadi sebuah profesi yang menjanjikan”.
Demikian juga dengan perwakilan dari Universitas Baturaja Yetty Oktarina mengatakan ”sebenarnya potensi pertanian di Indonesia sangat besar untuk dikembangkan, namun hingga saat ini kebijakan yang memihak kepada profesi pertanian masih sangat minim khususnya pendampingan dan pendanaan untuk modal kerja”. Hal ini dibenarkan oleh berberapa rekannya seperti Nirmala Jayanti dari Universitas Sumatera selatan dan Novyandra Ilham Bahtera dari Universitas bangka Belitung.
Direktur LP3 Nusantara dalam sambutannya menyoroti masalah yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini seperti kemiskinan dan kekurangan gizi serta rendahnya pendidikan warga khususnya di daerah pedesaan yang terus menghantui kecerdasan anak bangsa dan kesejahteraan masyarakat. Disamping itu Indonesia akan menghadapi bonus demografi yang puncaknya diperkirakan terjadi pada tahun 2035 dimana penduduk usia produktif lebih banyak jumlahnya dibanding usia tidak produktif, diperkirakan mencapai 68-70% penduduk yang membutuhkan lapangan pekerjaan sementaraketersediaan lapangan pekerjaan formal sangat terbatas. Profesi pertanian bisa menjadi solusi atau jawaban untuk hal tersebut.
Dia juga menyampaikan sebuah data yang menyatakan bahwa laus lahan pertanian di Indonesia hampir 70 juta hetar, namun sayangnya yang produktif kurang dari 45 juta hetar, yang berarti ada lebih dari 25 juta hetar lahan tidak produktif alias lahan tidur yang jika dikelola dengan sistem yang baik maka akan menghasilkan produk pertanian seperti bahan pangan daging, susu, ikan dapat menjadi sumber nutrisi yang sangat penting sekaligus nilai ekonomi yang cukup besar menjadi bahan diskusi dalam pelatihan ini. Demikian juga dengan pernyataan tentang potensi pertanian laut seperti budi daya rumput laut, ikan, udang, kepiting dan lainnya, mengingat jumlah pulau di Indonesia mencapai 17.504 pulau memiliki panjang pantai terpanjang kedua didunia yaitu mencapai 81.290 km merupakan sumber ekonomi yang luar biasa besar jika digarap dengan maksimal dan profesional.
Farman Azhari yang dalam sambutannya mengingat kewirausahaan itu sendiri membawa inovasi, efisiensi, dan kemajuan, maka menghasilkan lebih banyak dari lahan yang tersedia bukan satu-satunya tujuan, tetapi kita harus menciptakan nilai tambah yang berarti merubah hasil pertanian menjadi produk-produk yang lebih bernilai. Kita juga harus emikirkan kebutuhan pangan masa depan yang berkelanjutan seperti pangan alternatif, tanaman yang tahan perubahan iklim dan tahan terhadap kekeringan, hilirisasi produk pertanian, membuat produk turunan,dst.
Dia mencontohkan bahwa para ilmuwan mengatakan ikan salmon tidak dapat dibudidayakan karena ikan salmon hidup di samudra pasifik dan samudera dengan suhu dingin, berkat ziggy dan Pyka ikan salmon dapat dibudidayakan di air tawar di negara Tasmania Australlia. Kini Norwegia dan China membudidayakannya secara besar-besaran.
Akhir-akhir ini China telah berhasil menciptakan padi abadi, padi yang sekali tanam dapat dipanen berkali-kali. China juga telah menciptakan jenis padi yang dapat ditanam dan than terhadap air laut. Terakhir China kini telah mampu menciptakan jenis sawit yang dapat ditanam dan tumbuh dengan baik untuk daerah bersalju.
Syamsir perwakilan Universitas Ichsan Gorontalo bersama Larasati Sukmadewi Wibowo dari Universitas Negeri Gorontalo menyoroti yang disampaikan oleh Direktur LP3 Nusantara terutama tentang hilirisasi produk pertanian dan membuat produk turunan untuk nilai tambah adalah tantangan besar, karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan pelaku pertanian. Disamping itu belum adanya perlindungan maksimal terhadap produk pertanian yang sering membuat produk hasil pertanian tidak memiliki harga yang wajar.
Sementara Dian Retno Intan dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara menyampaikan ”jebakan modal kerja yang didapat dari para rentenir dan para tengkulak yang menentukan harga pasar atas produk pertanian tidak dilakukan penindakan tegas oleh pemangku kepentingan utamanya pemerintah, sehingga tarap hidup pelaku pertanian sulit untuk mencapai kata sejahtera, seakan menjadi profesi yang tidak diperhitungkan”. Hal ini dibenarkan oleh rekannya fahri Kurnia bakti dari Universitas Alkhairaat.
”Yang diperlukan oleh pelaku pertanian adalah adanya pendampingan, mudahnya akses permodalan dan harga produk pertanian yang memadai” kata Elsa Chrstin saragih dari Univ. Kristen Wira Wacana Sumba menambahkan.
Ratna Dewi Lestari dari Univ. Duta bangsa Surakarta memiliki pandangan bahwa profesi pertanian oleh sebagian besar masyarakat bukan profesi yang membanggakan. Hal tersebut ditanggapi oleh tungga Buana Diana dari Univ. Borobudur karena adanya pemahaman bahwa profesi dibidang pertanian dianggap tidak diperlukan pengetahuan atau sekolah. Jadi dianggap sebuah kegagalan jika memilik pengetahuan atau sekolah tinggi pada akhirnya berprofesi di bidang pertanian. Sementara Ikawati dari Univ. Sulbar menyarankan untuk menanamkan prinsip bahwa profesi dibidang pertanian adalah profesi terhormat dan dibutuhkan orang-orang terbaik dengan pengetahuan yang dimilikinya.


Dahlia Nauli dari Univ. Muhammadiyah jakarta mendukung pernyataan rekannya Astini Padapi dari Univ. Muhammadiyah Sindenreng rappang yang mengatakan Kewirausahaan industri produk pertanian adalah profesi yang menjanjikan, namun keterbatasan dukungan alat, teknologi, ketersediaan sumberdaya, dan pemasaran harus dipikirkan dengan kebijakan atau regulasi sehingga dapat merangsang ketertarikan masayrakat secara luas.
Memperhatikan materi pelatihan sangat bermanfaat, maka para peserta meminta agar pelatihan serupa diadakan untuk semakin banyaknya para dosen yang memahami praktek kewirausahaan industri khusunya untuk produk pertanian. Disamping itu perlu juga tidak kalah pentingnya untuk pelatihan khusus dibidang pemasaran untuk produk hasil pertanian termasuk turunannya.

(. Redaksi. )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *