Kutukan Rakyat Yang Tergusur Dari Tanah Leluhur Mereka Pasti Didengar Oleh Tuhan

JAKARTA-Bharindojakartaindonesia.com/- Menanamkan kebencian kepada rakyat itu tidak berbeda dengan menanamkan dinamit di dalam rumah. Pada  saatnya kelak, dinamit itu akan meledak juga. Maka itu mengusir, membuldozer atau pun mengosongkan warga dari tempat huniannya yang telah turun temurun mereka tempati — apapun dalihnya — akan menimbulkan kutukan. Sebab di tempat hunian itu sudah menjadi bagian dari sejarah, budaya serta harapan penghidupan anak cucu mereka hari ini dan di masa datang.

Orang-orang yang terusir dari tanah kelahirannya akan bersumpah serapah, sebab makam para leluhur mereka pun tak rela ditinggal begitu saja. Kecuali itu, kesadaran dari mereka yang hendak digusur sangat paham bila hak serta ketenteraman hidup mereka diusik, para leluhur mereka pun tidak rela untuk menerima begitu saja. Maka itu, sekecil apapun perlawanan harus dan wajib untuk  dilakukan. Setidaknya agar tak balik dikutuk oleh para leluhur yang telah mewariskan segenap tata budaya serta tuntunan hidup yang baik dan harmoni.

Itulah sebabnya dalam sengketa pertanahan orang berani memasang lehernya untuk dipenggal, atau harus memenggal leher mereka yang mengusir itu. Karena beban sejarah, budaya serta segenap warisan leluhur sudah tertanam di tempat pemukiman mereka. Dan mereka pun paham artinya kemerdekaan — tak ingin mengusik orang lain — juga tak hendak diusik oleh siapapun juga. Meski pada akhirnya harus kalah, toh perlawanan tetap dilakukan agar supaya para leluhur tidak menyesali keberanian dan tekad hidup dari anak keturunannya.

Ibarat sejengkal tanah warisan itu telah memiliki tuah. Oleh sebab tidak sedikit diantara penduduk setempat yang beranggapan pamali bila untuk memindah tangankan tanah atau lahan warisan itu — utamanya ladang dan pekarangan rumah yang merupakan peninggalan dari warisan para leluhur mereka. Atas dasar pemahaman serupa itu, maka tanah sejengkal itu pun tidak bisa dibandingkan dengan lahan yang berlipat ganda luasnya di tempat lain. Karena nilai lahan atau pekarangan rumah maupun kebun yang telah diolah bertahun-tahun dan telah mencatat semua peristiwa dan sejarah masa lalu dari keluarga tersebut, tidak lagi bisa dinilai dengan luas dan lebar secara fisik, sebab lahan atau pekarangan termasuk kebun yang telah diolah secara turun temurun itu memiliki nilai lebih — sakral dan spiritual sifatnya — yang tidak mungkin disetarakan secara fisik semata.

Oleh karena itu, mereka yang kalah mempertahankan tanah, lahan dan pekarangan atau bahkan kebun tempat mereka bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan hidup secara turun temurun, ketika kalah dan harus tergusur Karena keangkuhan buldozer penguasa, termasuk mereka yang cuma dijadikan alat penggusur oleh pengusaha — akan dikutuk seumur hidup sampai ke ujung akhirat. Karena bukan saja telah membuat dera dan derita anak istri serta keluarga mereka yang lain, tapi dera dan derita yang berkepanjangan itu akan mereka bawa sampai mati agar kelak dapat disampaikan langsung kepada Tuhan.

Dalam semua keyakinan agama, toh semua orang percaya bahwa perbuatan baik itu sangat disukai oleh Tuhan. Sebaliknya,  perlakuan yang buruk, jahat dan keji serta  zalim sangat dibenci oleh Tuhan. Lain ceritanya untuk mereka yang tidak percaya pada tuntunan dan ajaran agama, dan mereka yang tidak beragama. Karena semua perbuatan itu — baik atau buruk —  kelak akan mendapatkan balasan yang juga setimpal.

Banten, 26 September 20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *