*Penulis Itu Telah Mati*

Jacob Ereste :

(Bagian Ketujuh)

Jakarta- Bharindojakartaindonesia.com/- Pada peringatan seminggu kematian penulis itu, ditandai dengan acara diskusi tentang sosok sang penulis yang digagas Markenun bersama Karto Glinding serta kawan-kawan lain semasa hidup almarhum. Dalam pengantar acara diskusi, Karto Glinding   berbicara panjang lebar, hingga filosofis tentang kematian itu sendiri yang dapat dipahami menjadi sebuah pertanda dari kematian dalam bentuk lain. Misalnya tentang demokrasi di Indonesia pada saat tahapan Pemilu 2024 dilaksanakan hingga menimbulkan banyak kecurangan yang secara terang benderang dipraktekkan oleh pihak Capres maupun pendukung serta mereka yang bekerja di belakang layar dari pelaksanaan Pemilu yang dianggap paling buruh sepanjang sejarah di republik ini.

Hakekat kematian itu sendiri menurut Karto Glinding bukan hanya ditandai oleh berpisahnya ruh dari tubuh manusia, tetapi juga matinya demokrasi seperti yang acap ditulis oleh almarhum semasa hidup. Apalagi kematiannya sendiri saat pesta demokrasi sedang berada pada puncak klimak yang paling panas dengan beragam trik dan manuver dari masing-masing peserta, sehingga membuat kelengahan bahwa dalam Pemilu 2024 juga sedang berlangsung pemilihan calon legislatif.

Kematian penulis itu pun bisa juga mengisyaratkan dari kemati budaya kritik yang dimandulkan sedemikian rupa hingga tak berdaya dan tidak memberi pengaruh apa-apa, lantaran mereka yang dikritik sudah terlalu kebal dan bebal untuk menganggapnya angin lalu. Atau bahkan semacam kentut yang cuma mengganggu dan mengusik ketenteraman orang lain untuk terus asyik melakukan apa yang dikehendakinya.

Jadi kematian seorang penulis, pun dapat dipahami tidak lagi ada artinya sosok dan fungsinya sebagai kontrol sosial atau sekedar menjadi saksi sejarah yang tekun mencatat dan mendokumenkan berbagai kejadian atau peristiwa yang bernilai penting untuk tetap diingat atau menjadi catatan penting agar kelak bisa mengingatkan kembali bahwa suatu peristiwa yang tragis, dramatis bahkan ironis pernah terjadi di muka bumi.

Sebab dari laporan, ulasan atau opini seorang penulis yang bernilai jurnalistik sifatnya pasti memuat kandungan sejarah yang patut dikenang, diingat atau bahkan untuk dipelajari kembali mengapa peristiwa atau kisah serupa itu harus terjadi. Lalu sebab dan akibatnya pun dapat diproyeksikan lebih terang benderang untuk dapat dijadi bahan  acuan guna mengantisipasi kejadian serupa yang mungkin dapat terjadi lagi secara berulang.

Sebab sangat mungkin masalah serupa akan kembali terjadi — meski tidak persis sama dengan peristiwa atau yang telah terjadi sebelum itu, toh antisipasi yang mengakibatkan juga mirip bisa dilakukan agar tidak sampai menimbulkan korban atau malapetaka akibat dari peristiwa yang pernah terjadi dahulu itu.

Karto Glinding, juga mengurai beragam pendapat dan gagasan almarhum yang masih relevan untuk dipikirkan oleh banyak orang pada hari ini, misalnya soal Badan Pembina Ideologi Pancasila yang semakin tidak jelas fungsi dan peranannya, seperti fenomena dari merosotnya etika, moral dan akhlak oleh pejabat publik yang berperilaku culas, rakus, tamak serta kemaruk, tanpa malu-malu untuk memperkaya diri serta mempertahankan jabatannya demi  kekuasaan untuk melakukan banyak hal dengan semena-mena sesuai dengan hasrat dan birahinya sendiri.

Dalam acara diskusi untuk memperingati dan mengirimkan do’a khusus kepada almarhum ini, banyak pula yang tidak cukup mengenal — apalagi memahami — aktivitas dan idealisme sang penulis yang telah mati itu, sehingga kembali muncul ide serta gagasan untuk membukukan karya tulisnya yang cukup banyak bertebaran di berbagai media umum maupun media khusus seperti penerbitan dari lapangan kampus. Namun kesaksian Karto Glinding dan Markenun — sebagai sahabat almarhum yang relatif dekat — rencana untuk menerbitkan karya tulis almarhum itu mendapat penolakan dari pihak keluarga. Karena apapun yang dilakukan almarhum semasa hidupnya telah selesai. Tidak lagi perlu dipertautkan dengan hasrat duniawi kekinian yang tidak pernah juga diinginkan oleh almarhum semasa hidupnya.

Alasan dari pihak keluarga, pun memahami hakekat kematian itu sendiri artinya adalah berakhirnya segala bentuk kegiatan di bumi. “Biarlah, almarhum menikmati kehidupannya yang lain di alam yang lain itu”, ujar Karto Glinding mengutip pernyataan resmi dari pihak keluarga. Tapi untuk sekedar membicarakan sosok penulis yang telah mati itu, tetap merupakan hak yang sah dari semua orang untuk mengapresiasi karya maupun sikap hidup almarhum seperti yang apa adanya di dalam benak setiap orang yang pernah bersinggungan atau berinteraksi dengan almarhum semasa hidupnya.

Karena itu, usulan Karto Glinding yang jenial adalah mengumpulkan pendapat serta kesan semua orang yang berminat memberikan kesaksian terhadap almarhum — termasuk yang buruk dan konyol serta naib — dari apa yang pernah dialami bersama almarhum. Dan ide serta gagasan ini, tandas Karto Glinding justru sangat didukung oleh pihak keluarga. Karena kesan dan pendapat dari semua orang juga merupakan bagian dari hak yang patut dijaga dan terus bertumbuh sebagai oase yang indah dan menyegarkan hidup dan kehidupan yang tak boleh berhenti maupun dihentikan oleh siapapun.

Acara diskusi itu semakin gayeng dan asyik — bahkan jadi terkesan menjadi seru saat menjelang sore —  sampai akhirnya ditutup dengan renungan tentang kematian itu sendiri yang akan dihadapi dan dialami oleh setiap makhluk yang pernah hidup di bumi.

Tangerang, 3 Maret 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *