Apakah UPETI Merupakan Benteng Pertahanan PETI Di Pohuwato.?

Pohuwato – Bharindojakartaindonesia.com-, Kerusakan lingkungan di kabupaten Pohuwato akibat PETI sudah sangat memperihatinkan, eksploitasi sumber daya Alam berupa emas pada kawasan aliran sungai dengan menggunakan alat berat berupa Ekscavator,dilakukan secara brutal dan tidak terkendali.

Di Pohuwato,PETI sendiri terdapat di beberapa wilayah yaitu Kecamatan Dengilo, Marisa, Patilanggio, Taluditi,dan Popayato.
Dalam melakukan eksploitasi emas  tersebut para pelaku menggali Daerah aliran sungai, sehingga terkadang aliran sungai sudah berpindah tempat, lokasi yang dianggap sudah tidak menghasilkan  ditinggalkan begitu saja meninggalkan kubangan-kubangan dalam yang sangat berbahaya bagi masyarakat.

Sedangkan kegiatan tersebut berlangsung secara terang terangan tanpa ada rasa takut dari para pelaku, padahal suda jelas di dalam perundang undangan kegiatan tersebut Ilegal dengan ancaman Pidana yang berat.

Adapun yang tertuang dalam regulasi, PETI melanggar Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Pada pasal 158 UU tersebut, disebutkan bahwa orang yang melakukan penambangan tanpa izin dipidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000.000. Termasuk juga setiap orang yang memiliki IUP pada tahap eksplorasi, tetapi melakukan kegiatan operasi produksi, dipidana dengan pidana penjara diatur dalam pasal 160.

Ironisnya,Diwaktu waktu tertentu aktifitas tersebut berhenti dikarenakan adanya isu penertiban, akan tetapi tidak berselang lama kemudian aktivitas tersebut berlangsung kembali, melihat dari hal tersebut masyarakat menilai tentunya APH tidak bersungguh-sungguh dalam melakukan penertiban, atau penertiban tersebut dilakukan karena persoalan UPETI seperti yang diributkan dalam pemberitaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *