*Terowongan Masjid Istiqlal Menuju Katedral Simbolik Kerukunan dan Kebersamaan Ikatan Persaudaraan Umat Beragama*

Jacob Ereste :

Jakarta_Bharindojakartaindonesia.com/- Menyambut bulan Ramadhan 1445 Hijriah, Komisi Antar Agama dan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Jakarta ( K. HAAK KAJ) mengadakan dialog bersama tokoh Lintas Agama dan Kepercayaan bertema Dialog Ramadhan Tokoh Agama : “Membangun Persaudaraan dan Perdamaian Antar Umat Beragama” pada hari Kamis, 14 Maret 2024, pukul 14.00 – 16.00 di Aula Ignatius, Gedung Karya Sosial, Keuskupan Agung Jakarta, Jl. Katedral No. 5, Jalarta Pusat.

Nara sumber utama Prof. Dr. Nazaruddin Umar MA., Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Prof. Dr. Dede Rosyada MA., Ketua FKUB Prov. DKI Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, Uskup KAJ.

“Acara Dialog Ramadhan ini diselenggarakan bersama Tokoh Lintas Agama, FKUB, Pemerintah dan Komisi Hak Keuskupan Agung Jakarta sebagai penghormatan kepada Umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa”, ungkap Ignatius Suyadi, selalu  Ketua Penyelenggara acara sebagai bagian dari upaya membangun kebersamaan dan persaudaraan umat beragama di Indonesia.

Chairil S.Sos, yang mewakili Walikota Jakarta Pusat sangat mengapresiasi acara dialog ramadhan ini dengan kehadiran sejumlah peserta yang menandai tekat dari kehendak membangun ikatan persaudaraan dan kebersamaan sesama umat beragam. Karena itu, imbuhnya harus kita jaga ikatan kebersamaan dan jalinan persaudaraan, ungkap Walikota Jakarta Pusat melalui pesan tertulisnya.

“Kami mendukung sepenuhnya inisiatif dari upaya membangun ikatan persaudaraan dan kebersamaan antar umat beragama”, kata Chairil yang mewakili  Walikota Jakarta Pusat, sekaligus berkenan membuka acara secara resmi dialog yang sangat bergairah mendapat respon dari para hadirin yang mewakili organisasi dan ormas keagamaan yang ada di Jakarta.

Prof. Nazarudin Umar MA, selaku Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta berkisah  tentang pengalaman yang dialaminya bersama tokoh dan pemuka agama dari berbagai agama di dunia. “Mereka sangat mengapresiasi kerukunan hidup beragama di Indonesia, sehingga Uskup akan berkunjung ke Indonesia, sekalian menyaksikan simbol ikatan silaturahmi umat beragama di Indonesia yang ditandai adanya terowongan di bawah tanah yang menjadi jalan penghubung antara Masjid Istiqlal dengan Katedral”, kata  Nazarudin Umar seraya berkisah tentang sejarah singkat dari keberadaan terowongan silaturahmi itu.

Yang pasti, diskusi dan sinar tentang kerukunan hidup antar umat beragama di Indonesia telah usai. Sekarang ini, umat beragama di Indonesia telah melakukan langkah nyata membangun kerukunan dan toleransi antar umat beragama, seperti acara dialog ramadhan maupun membangun fasilitas parkir yang dapat digunakan secara  bersama, ketika memerlukannya. Sehingga ketertiban dan kenyamanan di sekitar Katedral dan Masjid Istiqlal dapat mencerminkan ketertiban serta kenyamanan bagi umat beragama saat menunaikan ibadah secara tertib dan harmoni dengan lingkungan sekitarnya.

Cerita tentang simbol dari jalinan silaturahmi antar umat beragama di Jakarta, mulanya berasal keinginan pemerintah hendak merenovasi Masjid Istiqlal, ungkap Imam Besar Masjid yang menjadi bagian dari kebanggaan warga Ibu Kota Jakarta.  Keinginan pemerintah ingin melakukan renovasi terhadap Masjid Istiqlal yang sudah terbilang tua usianya, disambut oleh Nazarudin Umar selaku Imam Besar Masjid Istiqlal dengan mengajukan usulan, betapa pentingnya ruang parkir dan terowongan dibawah yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Katedral. Karena sejak awal dibangun Masjid yang menjadi bagian dari kebanggaan Indonesia, karena berada di Ibu Kota Negara, maka hasrat pemerintah untuk merenovasi tempat ibadah umat Islam di Jakarta yang relatif megah ini, disambut Nazarudin Umar dengan mengajukan gagasannya bahwa melakukan renovasi bangunan masjid yang relatif tua usianya ini, sangat perlu dilakukan. Setidaknya untuk instalasi listriknya perlu segera diganti agar tidak sampai mengundang bahaya kebakaran.

Namun begitu, yang tidak kalah penting dari rencana renovasi Masjid Istiqlal yang dibangun semasa pemerintahan Presiden Soekarno dan diarsiteki oleh Ir. Silaban yang nota bene beragama non Muslim itu, yang lebih  urgen adalah segera membangun ruang parkir di bawah tanah, sekalian terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Katedral yang posisinya berada di seberang jalan yang juga bernama jalan Katedral.

Semula, pemerintah sempat menolak keinginan membuat ruang parkir dua lantai di bawah tanah halaman masjid. Apalagi kemudian diusulkan juga untuk membangun terowongan yang sangat simbolik sifatnya, karena menyiratkan jalinan persaudaraan serta silaturahmi yang harmoni antara umat beragama di Indonesia. Hingga akhirnya, keengganan pemerintah karena pertimbangan dana untuk membangun semua itu cukup besar — sekitar 40 milyar rupiah — rincian perkiraan biaya ketika itu, namun berkat lobby yang gigih dan alasan yang cukup jenial langsung oleh Imam Besar Masjid Istiqlal sendiri, akhirnya ruang parkir dua lantai di bawah tanah halaman masjid serta terowongan yang sangat simbolik bernama silaturahmi itu disetujui juga. Dan dalam waktu dekat — insyaallah pada bulan Agustus 2024 — bertepatan dengan rencana kedatangan Puas itu kelak akan diresmikan. Dan yang tidak kalah penting, tamu dan undangan maupun jemaat yang akan datang ke Katedral pun dapat memanfaatkan ruang parkir di bawah tanah halaman Masjid Istiqlal yang cukup luas itu. Dan gagasan membangun ruang parkir yang cukup luas  berlantai dua di halaman bawah tanah ini, karena prihatin  terhadap kendaraan yang membludak parkir di sepanjang jalan antara Katedral dan Masjid Istiqlal itu dulu, sebelum ruang parkir dua lantai di bawah tanah itu di bangun.

Untuk mempercepat proses finishing dari ruang parkir dan terowongan silaturahmi ini — yang  sarat dengan simbolik profetik yang religius — usai acara dialog yang disampul dengan do’a dalam bahasa bumi oleh Sri Eko Sriyanto Galgendu, selaku Pemimpin Spiritual Nusantara. Usai acara dialog, Nazarudin Umar langsung menggiring semua tamu yang hadir untuk melihat bangunan terowongan silaturahmi itu yang belum sepenuhnya rampung dipoles seni dan tata ruang serta interiornya agar dapat pula menjadi obyek wisata religius yang bisa mendekatkan para pengunjungnya kepada Tuhan. Sebab hanya dengan begitu, gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual bisa ikut menjadi pelindung bangsa dan negara agar tidak tergelincir ke dalam jurang yang bisa meluluh lantakkan tata kehidupan berbangsa, bernegara dan berbudaya serta menjalankan tuntunan  beragama secara benar dan juga menyenangkan bagi orang banyak.

Katedral, 14 Maret 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *